Betavolt menjelaskan baterai nuklir ini dapat menghasilkan daya 100 mikrowatt dan tegangan 3V, dengan ukuran 15x15x5 milimeter kubik. Karena ukurannya yang mungil, baterai ini bisa dipasang dalam jumlah banyak untuk menghasilkan energi lebih besar.
Ke depan, perusahaan juga berencana memproduksi baterai dengan daya 1 watt mulai tahun 2025.
Betavolt mengklaim baterai ini tidak mudah terbakar atau meledak dan mampu bekerja pada suhu berkisar antara -60 hingga 120 derajat Celsius.
“Baterai energi atom yang dikembangkan oleh Betavolt benar-benar aman, tidak memiliki radiasi eksternal, dan cocok untuk digunakan pada perangkat medis seperti alat pacu jantung, jantung buatan, dan koklea dalam tubuh manusia,” kata perusahaan tersebut.
“Baterai energi atom ramah lingkungan. Setelah masa peluruhan, 63 isotop tersebut berubah menjadi isotop tembaga yang stabil, non-radioaktif dan tidak menimbulkan ancaman atau mencemari lingkungan,” lanjutnya.
Baterai bertenaga nuklir sebenarnya bukan hal baru. Jauh sebelum ini, para ilmuwan di Uni Soviet dan Amerika Serikat mampu mengembangkan teknologi baterai nuklir untuk digunakan di pesawat ruang angkasa, sistem bawah air, dan stasiun ilmiah jarak jauh, namun baterai termonuklir sangat mahal dan ukurannya super besar.(rfk/ind)










