Bayu mengutip data dari BPS bahwa diperkirakan produksi beras pada Januari dan Februari masih mengalami defisit. Jadi, untuk awal 2024, belum ada kondisi yang menggembirakan bagi kondisi produksi beras Indonesia.
“Ada tiga faktor kenapa harga naik, tingginya harga pupuk, di dunia juga naik dan turun. Bagi Indonesia, dari data BPS mengatakan Januari-Februari defisit, jumlahnya cukup besar. Jadi terjadi panen mundur di Jawa, sehingga membuat suplai dari dalam negeri juga akan sulit,” terang dia.
Bayu mengungkapkan sejak bantuan pangan beras tahap pertama digulirkan pada periode Maret, April dan Mei 2023, inflasi beras mengalami penurunan dari 2,63% 2023. Ini kemudian turun menjadi 0,70% pada Maret 2023. Penurunan terus terjadi menjadi 0,55% pada April 2023 dan 0,02% pada bulan berikutnya.
Sedangkan pada bantuan pangan CBP tahap II yang disalurkan dari bulan September sampai dengan Desember, mampu menjaga laju kenaikan harga beras di akhir tahun yang biasanya naik tinggi. Hal ini terlihat dari inflasi beras yang menurun cukup signifikan dari 5,61% pada September 2023 menjadi 0,43% pada Desember 2023.(rfk/ind)










