Fakta Dibalik Kontroversi Daun Kratom

Tanaman kratom yang tumbuh subur di Kalbar (foto:int)

Senyawa 7-hydroxymitragynine dan speciogynine memiliki efek sebagai obat analgesik atau pereda rasa sakit. Di sisi lain, paynantheine bisa menciptakan efek menghilangkan rasa nyeri. Dikutip dari Webmd, tanaman kratom juga sudah lama digunakan masyarakat Asia Tenggara sebagai obat rumahan untuk mengatasi berbagai keluhan, seperti kelelahan,nyeri,diare,kram otot.

Apakah kratom bahaya dan memabukkan? Meski bermanfaat, daun kratom juga bisa menimbulkan efek samping yang berbahaya bagi kesehatan. Dikutip dari laman BNN, efek samping kratom antara lain, Infeksi Salmonella.

Pada 2018, Center for Diseases Control and Prevention (CDC) AS melaporkan 28 kasus infeksi salmonella yang terkait dengan penggunaan daun kratom. Salmonella adalah bakteri yang menular lewat makanan atau minuman dan dapat menyebabkan infeksi pada saluran pencernaan.

Di tahun yang sama, Food and Administration (FDA) AS melaporkan 35 kasus kematian terkait konsumsi daun kratom yang terpapar salmonella. Korban mengonsumsi kratom dalam bentuk bubuk, teh, atau pil.

Efek Kecanduan, Kandungan mitragynine yang ada dalam kratom dapat memberikan efek kecanduan jika dikonsumsi dalam dosis tinggi. Hal inilah yang menimbulkan kekhawatiran kalau kratom disalahgunakan menjadi narkoba.

Dalam jangka panjang bisa memicu gejala putus obat (withdrawal symptom) saat pemakaian kratom dihentikan, seperti:Agitasi,Agresi,Mual dan muntah,Menggigil,Diare,Nyeri otot atau sendi,Hipotermia,Gampang berkeringat,Gemetar,Depresi. (rfk/ind)