“Dengan 175 negara yang mendukung kesepakatan PBB tentang plastik pada 2024, sekarang adalah saat yang tepat bagi kita untuk bersama-sama menciptakan kembali industri plastik yang lebih berkelanjutan dan mengurangi dampak perubahan iklim.”
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia, Profesor Nizam, mengatakan bahwa IPPIN Demo Day adalah kesempatan untuk menyaksikan kewirausahaan bidang lingkungan antara kedua negara yang sedang beraksi.
“Pada Demo Day tahun lalu, Plastics Innovation Hub Indonesia memperkenalkan kami pada solusi dan teknologi pertanian Australia-Indonesia yang dapat terurai secara hayati, berpotensi mengubah mata pencaharian para pemulung di Indonesia,” kata Profesor Nizam.
“Kami bangga menjadi bagian dari program ini dan akan terus menghubungkan universitas dan industri untuk membangun masa depan yang lebih baik.”
Sri Indrastuti Hadiputranto, Ketua Kemitraan Aksi Plastik Nasional Indonesia mengatakan bahwa program IPPIN memainkan peran penting dalam membina wirausahawan baru dan perusahaan rintisan, serta sangat penting dalam mengembangkan solusi jangka panjang untuk masalah plastik.
“Demo Day merupakan langkah penting dalam perjalanan program Akselerator IPPIN – untuk menguji kesiapan pasar para tim dan membantu tim yang paling berpotensi, untuk meningkatkan dampaknya dalam membuat perubahan yang berkelanjutan dalam ekosistem plastik,” kata Indrastuti.
Indo-Pacific Plastics Innovation Network merupakan bagian dari Misi Mengakhiri Sampah Plastik CSIRO, yang berupaya untuk mengurangi 80 persen sampah plastik yang masuk ke lingkungan Australia pada tahun 2030.(rfk/*r)










