Panjang lebar hal itu semua disampaikan Sutarmidji saat paparan dihadapan Peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Pusdiklat Kementerian Agama Republik Indonesia, Kamis (10/8).di Data Analytics Room Kantor Gubernur Kalimantan Barat.
Kembali Sutarmidji Sebut Keberhasilannya Membangun Desa di Kalbar
“Maksud dari kunjungan ini adalah untuk mendapatkan Informasi dari Gubernur Kalbar tentang sinergitas pemerintah dalam merawat hubungan khususnya di Prov Kalbar,” jelas Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Republik Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Muhajirin Yanis.
Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya merupakan dua lokus visitasi PKN ke II di lingkungan Kemenag RI yang diikuti 30 orang Pejabat Tinggi Pratama pada Kemenag RI, baik dari internal Kemenag RI maupun dari luar Kemenag RI, seperti Kemensos RI, POLRI, dan KPK RI.
Berbagai prestasi yang diraih Prov Kalbar juga dijabarkan Kakanwil Kemenag kepada para peserta, antara lain sejak tahun 2018 melalui FKUB telah menerima Harmony Award, Harmony Award untuk Kerukunan Beragama Tahun 2021.
Selain itu, Indeks Kerukunan Umat Beragama Kalbar diatas rata-rata nasional selama dua tahun berturut-turut (2021-2022). Kalbar juga masuk dalam 10 besar Indeks Kerukunan Tertinggi di Indonesia.
“Kemudian, Kota Singkawang menjadi Kota Tertoleransi di Indonesia. Tentunya karena sinergitas dan kendali Bapak Gubernur Kalimantan Barat,” papar Muhajirin Yanis.
Gubernur Sutarmidji juga menjelaskan Kalbar merupakan Provinsi yang sangat menantang karena masyarakatnya yang heterogen, baik dari agama maupun etnis.
“Di sini jumlah penduduk Muslim ada 60,69%. Kemudian, etnis Dayak 31%, Bugis-Melayu 42%, Jawa 6,2%, Madura 6,8% ,dan Tionghoa 8,6%, dan yang lainnya campuran,” jelasnya.
Kalbar dibilang menantang karena akar budaya semua etnik tersebut, lanjut Gubernur Sutarmidji. “Sebagian besar ada di sini dan jika suatu daerah akar budayanya ada di daerah itu, maka yang sangat heterogen ini harus ekstra hati-hati dalam me-manage-nya. Sehingga, setiap langkah dalam pembangunan harus berpatokan pada kebutuhan Bersama,”.
Dalam Closing Statement yang disampaikan Dr. Suseno, perwakilan Peserta PKN TK. II Kemenag RI, ia mengungkapkan hal yang dilakukan adalah memotret atau best practice yang dilakukan oleh Gubernur Kalbar. Untuk kemudian diadopsi dan diadaptasikan ketika para peserta kembali ke masing-masing lini kerja.
“Best Practice yang kami dapatkan adalah tiga pertama tentang leadership yang berkaitan dengan integritas dan energi kepemimpinan, dan dari jawaban yang Bapak Gubernur sampaikan sangat kental dengan passion membangun Kalimantan Barat. Kemudian Gubernur Kalbar juga dianggap sebagai digital leadership dimana mampu memotivasi orang untuk mengawal perubahan dan berhasil mendapatkan peringkat II SPBE dan hal itu contoh keberhasilan kurikulum dari LAN. Saya belajar dari Bapak Gubernur yang berkomunikasi dengan empati dan merupakan pemimpin yang melayani,” ungkapnya.(rfk/sma)










