BNPB Tanam Mangrove, Mitigasi Bahaya Tsunami

PACITAN – BNPB mengajak berbagai pihak untuk menanam mangrove di Pantai Soge, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, pada Minggu (17/12). Kegiatan ini merupakan upaya mitigasi dengan vegetasi menangani ancaman bahaya tsunami di kawasan itu. 
Penanaman mangrove ini memperkuat program desa tangguh yang sudah terbangun di Kabupaten Pacitan, salah satunya Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirejo, Pacitan. Sebanyak 200 bibit tanaman mangrove ditanam secara simbolis di Pantai Soge siang tadi. Sekretaris Utama BNPB Dr. Lilik Kurniawan bersama Sekretaris Daerah Kabupaten Pacitan, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur, lembaga/lembaga penyelenggara, peserta sosialisasi IDRIP dan Bank Dunia ikut serta melakukan pelindungan mangrove tersebut. 
Total jumlah mangrove yang akan ditanam di kawasan itu sebanyak 2.000 bibit. Sebagian besar bibit tersebut diupayakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan. 
Pada keterangan pers, Sekretaris Utama BNPB menyampaikan, upaya ini untuk membangun desa tangguh bencana tsunami. Ada 10 indikator yang telah dilakukan Desa Sidomulyo, termasuk biaya vegetasi. “Jangka panjangnya adalah membuat pencahayaan berbasis vegetasi salah satunya dengan menyembunyikan mangrove,” ujar Lilik. 
Lebih lanjut, Lilik menambahkan, tanaman keras juga akan ditanam di kawasan Pantai Soge. Tentu hal tersebut disesuaikan dengan tanaman yang cocok dan dapat hidup di pesisir pantai. “Ini adalah upaya pemerintah melindungi masyarakat terhadap bahaya tsunami,” imbuhnya. 
Tanaman mangrove saat terjadi tsunami berfungsi sebagai penghalang alami di pinggir pantai untuk memecah gelombang. Di sisi lain, ini dapat dimanfaatkan untuk mencegah abrasi. Penanaman ini tidak hanya untuk penanggulangan bencana tetapi juga mendukung program adaptasi terhadap perubahan iklim. 
Sementara itu, Desa Sidomulyo ini menjadi salah satu dari 180 desa terpilih yang mendapatkan dukungan kesiapsiagaan terhadap gempa bumi dan tsunami. Dukungan yang didanai Bank Dunia ini merupakan program _Indonesia Disaster Resilience Initiatives Project_ (IDRIP). Program kesiapsiagaan dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi gempa bumi dan tsunami ini dikoordinasikan melalui BNPB dan BMKG. 
Pada kesempatan itu, BNPB dan BMKG mengajak kepala pelaksana BPBD di 17 provinsi dan perwakilan pemerintah daerah serta BPBD kabupaten/kota untuk melihat desakan Desa Sidomulyo dalam membangun desa tangguh bencana (destana), khususnya dari ancaman bahaya gempa dan tsunami.
Sebanyak 10 indikator telah dilakukan warga masyarakat Desa Sidomulyo, di antaranya penilaian ketangguhan desa, penyusunan peta risiko desa berbasis partisipatif, kronologi dini komunitas, perbaikan struktural dan non-struktural hingga simulasi rencana penyelamatan. 
Dari kunjungan ini, BNPB mengharapkan undangan Desa Sidomulyo dapat dijadikan model dan direplikasi sesuai karakteristik masing-masing daerah. (rfk/pusdatin bnpb)